Jumat, 05 Oktober 2012

Obesitas pada anak

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara sudah muncul masalah gizi lebih. Kelebihan gizi yang menimbulkan obesitas dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa.

Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan. Obesitas pada anak umumnya disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Penyebab yang umum adalah kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, genetik, atau kombinasi dari faktorfaktor ini. Obesitas pada anak berhubungan dengan peningkatan resiko berbagai masalah kesehatan, antara lain, peningkatan kolesterol, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dini, diabetes, asma, sleep apnea (berhenti nafas saat tidur), masalah tulang atau pun kulit, serta problem psikologis misalnya kurang percaya diri. 
Seorang anak dikategorikan gemuk bila terdapat penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Cara indikasinya berdasarkan:
1. Pengukuran bobot badan (B) dalam kilogram terhadap tinggi badan (T) dalam meter yang dibandingkan dengan standar:
  • Obesitas ringan: indeks B/T 120-135%
  • Obesitas sedang: indeks B/T >135-150%
  • Obesitas berat: indeks B/T >150-200%
  • Obesitas super: >200%
2. Menghitung bobot badan (BB) kg dibagi tinggi badan TB (m)2
  • Obesitas ringan: indeks 25-29.9
  • Obesitas sedang: indeks 30-40
  • Obesitas berat: indeks >40
Bayi kelebihan berat dan tidak diobati dapat tetap kelebihan berat ketika dewasa. Untuk itu upaya awal untuk mengubah perilaku dimulai sejak bayi, seperti pemberian makan sesuai kebutuhan segera sesudah lahir, pemberian makanan hanya bila ada tanda-tanda lapar pada umur 1 tahun, hindarkan perkenalan dengan menunjukkan makanan menarik atau memberi resep waktu makan dengan jam, dan dengan mendidik anak makan kalau lapar, dapat secara efektif mencegah kelebihan makan dan kegemukan. Diet kalori yang sangat rendah pada anak tidak tepat karena diet ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Daftar pustaka:
Pondok Indah Health Care Group: Obesitas pada Anak; Bagaimana Mencegahnya?
Sartika, R. A. D. 2011. Faktor Resiko Obesitas pada Anak 5-15 Tahun di Indonesia. Makara, Kesehatan, Vol. 15, No. 1, Juni 2011: 37-43
Saunders, W.B. 1996. Nelson Textbook Of Pediatrics. 15/E. Jakarta: EGC

0 komentar:

Posting Komentar

Obesitas pada anak

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara sudah muncul masalah gizi lebih. Kelebihan gizi yang menimbulkan obesitas dapat terjadi baik pada anak-anak hingga usia dewasa.

Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan. Obesitas pada anak umumnya disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor. Penyebab yang umum adalah kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, genetik, atau kombinasi dari faktorfaktor ini. Obesitas pada anak berhubungan dengan peningkatan resiko berbagai masalah kesehatan, antara lain, peningkatan kolesterol, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dini, diabetes, asma, sleep apnea (berhenti nafas saat tidur), masalah tulang atau pun kulit, serta problem psikologis misalnya kurang percaya diri. 
Seorang anak dikategorikan gemuk bila terdapat penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Cara indikasinya berdasarkan:
1. Pengukuran bobot badan (B) dalam kilogram terhadap tinggi badan (T) dalam meter yang dibandingkan dengan standar:
  • Obesitas ringan: indeks B/T 120-135%
  • Obesitas sedang: indeks B/T >135-150%
  • Obesitas berat: indeks B/T >150-200%
  • Obesitas super: >200%
2. Menghitung bobot badan (BB) kg dibagi tinggi badan TB (m)2
  • Obesitas ringan: indeks 25-29.9
  • Obesitas sedang: indeks 30-40
  • Obesitas berat: indeks >40
Bayi kelebihan berat dan tidak diobati dapat tetap kelebihan berat ketika dewasa. Untuk itu upaya awal untuk mengubah perilaku dimulai sejak bayi, seperti pemberian makan sesuai kebutuhan segera sesudah lahir, pemberian makanan hanya bila ada tanda-tanda lapar pada umur 1 tahun, hindarkan perkenalan dengan menunjukkan makanan menarik atau memberi resep waktu makan dengan jam, dan dengan mendidik anak makan kalau lapar, dapat secara efektif mencegah kelebihan makan dan kegemukan. Diet kalori yang sangat rendah pada anak tidak tepat karena diet ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Daftar pustaka:
Pondok Indah Health Care Group: Obesitas pada Anak; Bagaimana Mencegahnya?
Sartika, R. A. D. 2011. Faktor Resiko Obesitas pada Anak 5-15 Tahun di Indonesia. Makara, Kesehatan, Vol. 15, No. 1, Juni 2011: 37-43
Saunders, W.B. 1996. Nelson Textbook Of Pediatrics. 15/E. Jakarta: EGC

0 komentar:

Posting Komentar